Langsung ke konten utama

Paradise

"kali ini tidak hanya perasaan ku, tubuh ku juga ikut berpatah hati"
(Anne)


Bagi seorang penyair, patah hati terdalam adalah puisi terbaik. Kabar baiknya aku bukanlah seorang penyair atau sejenisnya, hanya saja aku suka menulis.

Aku Anne bukan ant. Seorang gadis kecil yang telah dikenal baik oleh orang-orang yang menghabiskan hidupnya untuk bekerja keras demi perut di malam hari di bawah sinar rembulan, jika tidak mendung atau sedang turun hujan.

Aku punya mimpi-mimpi besar yang sama sekali tidak ingin aku wujudkan. Salah satunya membuat dunia hanya diisi oleh orang-orang kaya raya dan baik. tidak ada rampok, gelandangan, koruptor, penguasa dzalim, buaya darat baik itu betina ataupun jantan dan lain sebagainya.

Ya, seandainya saja itu terwujud  aku pastilah tuhan, dan tuhan tidak akan melakukan itu. sebab hidup ini telah dirancang untuk mempunyai banyak warna. Hitam, putih dan abu-abu. Ada yang jahat agar baik terlihat. Masing-masing menjadi pengajaran bagi yang lain, jika otak digunakan untuk berfikir. Iya, dengan penuh rasa segan aku katakan bahwa,

“iya tuhan, aku lebih tau darimu tentang yang satu ini”.

Seharusnya patah hati gadis kecil sepertiku adalah saat kehilangan coklat atau ice cream yang jatuh dari tangan ku dan tidak patah hati oleh hal-hal yang rumit,.

Tapi aku hidup dilingkungan yang membuat isi kepalaku lebih cepat dewasa daripada tubuhku. Ya tubuh hanya sebuah tempat bukan ukuran untuk apapun. Hal didalamnya yang lebih penting dipertimbangkan ketika kau memutuskan untuk menyukai seseorang, seperti isi dada dan isi kepalanya.

Kehilangan coklat dan ice cream tidak akan membuatku menangis. sebab memang aku tak pernah memilikinya. Ya, tidak ada alasan apapun yang dapat digunakan untuk menangisi sesuatu yang bukan milik mu. Hidup yang aku jalani selama ini bukan untuk berangan hal semacam itu, aku bahkan tak sempat memikirkannya. Aku lebih suka nasi hangat dengan tempe goreng untuk perut yang tidak bisa memilih.

Sejak kecil sudah banyak hal yang datang dan pergi dari hidupku, baik secara permisi ataupun tanpa sopan santun. Persis seperti saat berusia 5 tahun nenek pergi meninggalkan ku dirumah sakit karena sakit gagal ginjal. Waktu itu pamit tidur, tapi sampai sekarang tidak bangun-bangun.

“Anne jangan menangis, nenek hanya lelah, butuh istirahat dan tidur” ungkapnya menenangkan tangis ku waktu itu.

Tega sekali dia menipu aku yang mencintai dan dicintainya. Aku menunggunya begitu lama sampai aku sadar bahwa tuhan telah mengambil kembali nenek yang dititpkannya pada ku. Bukan nenek ku memang, dia hanya salah satu pengasuh di panti asuhan tempatku bernaung. Sejak kecil ibu menitipkan ku disana sebab ayah pergi bersama wanita lain.

Waktu itu aku marah pada presiden sebab marah pada tuhan aku tidak berani. Pikiran lugu ku mengutuk presiden dari zaman penjajahan dulu sampai penjajahan zaman sekarang yang tidak mampu memberikan hidup berkecukupan untuk semua rakyatnya, sebab ibu tidak akan meninggalkan aku dengan latar belakang ekonomi ataupun jatuh cinta pada ayah yang jahat itu.

Namun belakangan aku mempelajari 2 hal dalam hidup ini.

Pertama bahwa jatuh hati tidak bisa memilih. sebab jika iya, siapapun akan memilih jatuh hati pada orang yang mencintainya, bukan pada orang yang mencintai orang lain.

Kedua, bahwa cukup letaknya bukan pada sesuatu yang lebih tapi pada sesuatu yang, ya cukup. cukup di rasa syukurmu.

“wah, kali ini kau selamat para pak presiden” batin ku.

Setelah merenungi sebuah keputusan berat untuk mengutuk manusia dengan jumlah tidak sedikit dan dalam waktu yang bersamaan.

Tentang kedua orangtua ku, aku tidak perduli pada mereka, tugasku hanya berbakti. Tapi aku bersyukur tidak kenal siapa dan bagaimana wajah mereka. Jadi baktiku cukup lewat doa agar mereka sesegara mungkin masuk surga.

Sekarang usia ku 12 tahun lewat sehari, kali ini untuk kesekian kali nya aku duduk ditepi jalan dengan gitar kesayangan ku. Iya tentu saja, aku suka musik. Beberapa lagu seperti api yang menempaku menjadi baja.

Jalan yang satu ini, tempat duduk ku saat ini, jangan coba-coba untuk dibayangkan atau diimajinasikan. Kau tidak akan bisa membayangkannya, sebab kau tidak pernah kesini. ini adalah jalan yang paling panjang dan paling ramai sedunia versi ku. Dijalan ini pertemuan dan perpisahan juga menghiasi isi ingatan ku.

Malam ini agak berbeda, setelah makan aku agak mengantuk, jalanan juga agak lengang dan bulan bersinar sedang terang-terangnya. Seorang kakek tua yang tidak aku kenal menghampiri dan menyodorkan aku sebuah apel. Tidak, ini bukan cerita putri salju. Meskipun, awalnya aku berfikir demikian. Tapi aku masih bocah itulah masalahnya.

Makanan apapun selama halalan toyiban, bisa dimakan dan yang paling utama adalah gratis, tidak akan aku tolak.

Mata ku sakit seperti kemasukan banyak sekali debu setelah aku menyelesaikan kunyahan satu gigitan pada apel tersebut. Aku meminta orang itu untuk membantuku dengan meniup-niup pelan mataku.

Semua benar-benar diluar dugaan saat aku berhasil membuka mataku.

“syukurlah, gimana matanya masih sakit?” ucap seorang perempuan cantik dengan ramah.

Aku ternganga mencoba mencerna apa yang kulihat, sekelilingku dunia yang benar-benar indah dan aku berada diatas sebuah sofa yang empuk sekali, semua berputar 180 derajat. Hanya gitarku yang masih sama.

“kakek yang tadi mana? Aku dimana? Anda siapa?” tanya ku pada perempuan itu.

“kamu dirumah dan aku adalah teman mu”.

Aku menatap perempuan itu dengan ekpresi keheranan.

“teman? Sejak kapan aku punya teman yang begini modelnya?” batin ku.

“sekarang ini rumah mu, jika kau butuh sesuatu panggil aku. Aku ada diseberang danau”.

Aku ingin protes, tapi seketika rasa takjub membungkam mulutku. Dunia ini benar-benar luar biasa. Langitnya cerah tidak ada asap polusi, ada danau yang airnya jernih sekali, juga pelangi yang membias cantik sekali. 

Kebun-kebun dengan pohon rendah dan buah yang berbagai macam. Ini seperti surga, meski aku tidak tau pasti surga sesungguhnya seperti apa. Aku mencoba berjalan disekitarnya, ada rumput  hijau yang lembut seperti sutra terhampar seluas mata memandang dengan permata berkilauan sebagai bebatuannya.

Aku tidak sedang mengkhayal meski aku seorang anak berumur 12 tahun, jadi jangan coba-coba menyebut aku hiperbola ketika mendeskripsikan bagian ini.

Aku melangkah sedikit agak jauh, ada aroma yang nyaman sekali menyapa indra penciuman ku. Bunga-bunga mawar tanpa duri dibatangnya tengah mekar. Ada perasaan bahagia yang tidak bisa aku definisikan tentang dunia satu ini. Semua yang aku impikan tentang kebahagiaan dalam hidup ada disini.

Hari-hari berlalu, aku tidak ingin pergi dari dunia yang indah ini, bahkan semakin hari aku semakin mencintainya. Hanya saja aku dilarang bermain gitar atau membuat kebisingan dalam bentuk apapun disini.

Hingga setelah banyak waktu dengan cinta yang semakin banyak dihatiku untuk dunia indah ini, aku menuliskan lagu yang berisikan harapan untuk bisa terus melalui hari-hari bersamanya. Bersama harapan itu, bersama gitar yang kupetik dunia indah itu sirna dan aku terbangun.

Bang Ben salah seorang preman yang sudah menjadi teman baik sekaligus seperti saudara sendiri bagiku, menyadarkan aku dari mimpi yang indah itu dengan gitar yang digenjrengnya sembarangan, tentu saja gitar ku.

“akhirnya, hari ini tiba. Dimana akhirnya aku terbangun dari semua mimpi manis ku”.

“hari ini? Baru juga tadi malem lu ketemu gue” bang Ben sewot melihat tingkahku.

“Udah siang, cari makan sana” katanya nya saat melihat aku membuka mata ku.

Aku menatap bang Ben dengan tatapan kecewa.

“ye, bengong aja lu. Sakit?”

“engga bang, ini juga mau cari makan, laper. Siniin gitar gue”.

Hari itu cukup berat, aku melaluinya dengan sangat murung. Sebab dunia yang indah itu ternyata hanya mimpi belaka.

Malam harinya aku benar-benar kelelahan. Kakek tua itu datang lagi, menyodorkan apel yang sama.
“berikan saja untuk yang lain kek, disana bukan tempat ku dan aku tau pemilik aslinya tidak pernah meninggalkan dunia itu.” ucapku lalu pergi tidur tanpa mimpi gila itu.

Aku bisa memakan dan menelan mimpi itu berulang kali, tapi pastinya aku juga akan kecewa berulang kali ketika bangun. Dan satu hal lagi seindah apapun disana itu hanya sebuah mimpi buruk yang manis ketika pagi menjelang.

Tapi aku bersyukur tuhan pernah menitipkan mimpi seindah itu melalui perantara kakek tua dan apelnya. Aku tau Dia punya alasan yang baik untuk itu. rasa sakit ketika terbangun sebanding dengan rasa bahagia ketika tidur.

Jadi, tuhan kita tidak akan bertengkar karena ini. Dan aku ingin ingatkan bahwa, segala yang ada adalah milik tuhan, bahkan mimpi sekalipun.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Samboja Di Tanah Lapang

Untuk samboja di tanah merah yang lapang.  Pada senja itu aku pulang. Aku melihat kesederhanaan menemukan rumah-rumahnya yang nyaman dan kalimat-kalimat menjadi indah dalam puisi. Pada senja itu ku lihat bunga-bunga layu untuk mekar kembali esok pagi. Katanya bahagia tak akan punya tempat di dunia bila kesedihan tidak tercipta.  Pada senja itu ku lihat kau yang samar-samar melangkah pergi, memilih asing sebagai tempat sembunyi. Aku hanya bisa membersihkan ruang tamu rumah kita, menata vas bunga, membersihkan debu-debu dari potret  k ebahagiaan yang diabadikan beberapa bulan lalu.  Ku nyalakan pendingin ruangan dalam temperatur sedang agar nanti saat kau pulang tetap merasa nyaman.  Meski bulan seringkali mencuri kisah ku dari balik awan malam. Meski air mata yang kita pendam sudah membanjiri rumah ini berkali-kali, menenggelamkan kalimat-kalimat di kepala kita, meski berkali-kali ruangan ini sunyi, mengeraskan denting jam dinding. Aku tak mengerti kata lari. Aku...

Untitled

Pernah gak sih kamu berada pada satu keadaan yang diluar kotak sama seseorang, maksudnya out of the box gitu loh. Keadaan nya aneh, misalnya kaya, kalian gak ngomong tapi saling bicara, gak ketemu tapi saling ketemu gitu. Gimana ya jelasinnya. Diluar angkasa banget kan?  Kalo dipikir-pikir ternyata kata-kata itu terlalu miskin untuk mendeskripsikan suatu keadaan. Tapi sebenarnya yang complicated itu bukan keadaan nya sih, lebih ke perasaan yang hadir dalam keadaan itu. Contohnya kaya, kamu bisa  mendeskripsikan perasaan senang, sedih, marah, tapi ada perasaan-perasaan lain yang gak ada namanya. Percaya gak? Mungkin agak sulit dimengerti ya. Contoh sederhananya itu kayak misal ada dua orang beda agama pacaran. Logikanya kan mending gak usah pacaran, atau kalo udah terlanjur putus aja. But pada praktek lapangannya ada perasaan yang ga punya nama tadi nimbrung dalam keadaan mereka sehingga ter konversi lah keadaan simple tadi jadi keadaan "rumit". Paham kan?  Tapi apa iya ad...

Selembar senyum beku

Kalo diingat-ingat lagi kita banyak singgah di tempat-tempat spesial. Terimakasih untuk orang-orang yang sudah membawa ku kesana.  Tapi sayang nya kalau dirasa-rasa kembali, kita sekarang tak bisa lebih spesial dari tempat itu. Setiap manusia punya perjalanan dan ceritanya sendiri oleh karena itu dalam sebuah sejarah ada beragam sudut pandang.  Tidak ada yang bisa memaksa kita untuk mempertahankan segala sesuatu yang fana,  dia bisa rusak kapan saja dengan sebab-sebab yang bisa saja terdengar konyol. Kita memang harus membiasakan diri. Terbiasa untuk hilang dalam kehilangan, terbiasa untuk biasa saja pada hal-hal yang melukai pikiran dan perasaan kita. Dan hal lain yang tak kalah penting, kita harus belajar mencintai alur cerita kita masing-masing.  Pada setiap pertemuan, pada setiap kebahagiaan, juga pada seluruh kesedihan di atas bumi ini memiliki ujiannya sendiri.  Tidak ada yang terlalu terluka dari yang lainnya, atau terlalu bahagia melebihi manusia lain....