Langsung ke konten utama

De Javu


 

Selembar schedule tergeletak di meja kerja yang berantakan. Aku hanya menatap santai layar ponsel sambil tangan kanan memegang risol favorit yang ku beli di warung langganan kantor ini.

Pikiran ku melesat pada beberapa waktu di masa lampau. Seorang perempuan duduk di barisan bangku paling belakang perkuliahan, main game sambil menunggu giliran maju presentasi di kelas. Gadis paling acuh yang tak bisa diremehkan oleh orang sekitarnya.

Berturut-turut menang berbagai lomba yang mengandalkan kejeniusan dengan para senior dan bahkan jadi orang dengan langkah yang paling panjang dikelasnya. Tak bisa diikuti kemalasan seperti itu dia membuat jalan sendiri.

"Tahun terakhir harusnya kau lulus kuliah"

"Iya aku memang berencana akan lulus"

"Tapi kau malah mengemban tanggung jawab lain"

"Agak sedikit terlambat, bukan berarti gagal"

Aku menghela napas, tersenyum mengingat perulangan keadaan itu seperti dejavu yang terjadi berulang kali.

Memoriku kembali melesat pada kesempatan lainnya di masa lalu. Saat beberapa pemuda dan pemudi yang kecanduan diskusi sedang duduk minum kopi. Gelas ku sama hitamnya dalam perkumpulan itu tapi isinya coklat, ya jangan suka terburu-buru menyimpulkan segala sesuatu.

"Aku lihat nama mu dalam daftar sidang bulan ini"

"Oh ya? Aku tak tau hal semacam itu diumumkan"
"Buru-buru sekali"

"Itupun sudah sedikit terlambat" Jawab ku

Aku pun memberi senyuman sebagai kembalian imbalan pernyataan itu. Kadangkala ketika orang-orang terbiasa melihat hal yang salah mereka akan aneh ketika menjumpai hal yang benar. Jadi adaptasi itu penting, untuk meminimalisir terjadinya letupan emosi yang tidak diundang.

"Aku kenal beberapa orang yang menunda sebab ingin menciptakan maha karya yang tak hanya akan jadi sampah di tumpukan rak-rak besi perpustakaan"

"Ya, itu prinsip mereka atau bisa jadi alasannya saja biar terlihat keren"

"Kenapa kamu berpikir begitu, mereka orang-orang hebat"

"Aku skeptis pada hal-hal tertentu" Jawab ku singkat

Aku tak keberatan membuat sampah untuk mengusir rasa malas ku dan menambah jumlah nya di rak buku perpustakaan itu. Aku salut pada mereka yang menunda resign dari jabatan donatur lembaga pencetak ijazah mereka memiliki garis finishnya sendiri dengan start yang sudah jelas berbeda.

Setiap hidup adalah pilihan, pertanyaan nya resiko dan hasil mana yang ingin kamu ambil. Beberapa bulan ini dejavu yang sama mulai berputar kembali seperti kaset lama yang kusut. Bikin pusing saja mendengar iramanya.

"Seusia mu sudah cukup memiliki pasangan"

"Iya tahun berikutnya pun masih cukup"

"Diantara mereka yang datang mengetuk pintu itu, tak perlu banyak dirisaukan. Cinta akan datang karena terbiasa" Begitu kata mereka

"Cinta bisa dirawat dan tumbuh setiap hari tapi sayang tidak bisa dipaksakan. Lagi pula ini bukan tentang hal sepele seperti itu ada bnyak hal privasi lain yang tidak perlu dipertanyakan bukan?" Jelas ku.

 
Aku dan kamu mengerti bahwa dejavu seperti ini akan terus ada. Dan jawabannya kita hanya perlu menjadi sedikit Stoikisme untuk tidak tinggal dalam pendapat dan puncak yang ada dipikiran orang lain.

 
Ku lirik jam dinding 30 menit lagi waktunya pulang. Aku buru-buru berkemas dan menghabiskan sisa risol yang enak itu. Dalam sekejap meja yang berantakan menjadi rapi dan siap ditinggal untuk diberantakan lagi besok pagi. Ya seperti itu seperti dejavu rasanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rumah Kosong

Sydney adalah sebuah rumah minimalis yang cantik dan sederhana. Berdiri ditengah sebuah kota  kecil yang damai. Pemiliknya adalah harry seorang pria yang kini sudah lanjut usia. Sudah begitu banyak kenangan yang mereka ciptakan bersama. Hari ini Harry akan pindah ke kota yang lebih besar. Hans anaknya telah sukses dalam perantauan dan membeli rumah baru di sana. Karena Hans adalah anak yang berbakti dan sayang dengan keluarganya dia memboyong Harry untuk tinggal bersama dirumah yang lebih mewah. Hari ini cukup berat bagi rumah dan pemilik rumah itu. sydney yang ramah sudah dikenal baik oleh kawanan burung pipit, pohon-pohon perdu bahkan anjing-anjing liar di kota itu. “Duk” sesuatu menimpa atap Lembaran daun kelor yang telah diikat rapi menjadi satu. Sebuah surat dari kawanan burung pipit yang terbang belum jauh dari rumah itu. hampir saja surat itu jatuh tepat diatas kepala Hans yang tengah berbenah di halaman. Namun buru-buru Sydney menahannya dengan talangan di atap yang b...

Janji seorang Pengelana

Aku seorang pengelana senja. Dulu sekali ada janji yang belum aku tepati. Hampir saja aku pensiun mengelana tapi janji itu tiba-tiba saja mampir di sudut memori ku. "Kau seorang pengelana kan?" "Aku?" Tanya ku "Temuilah kekasih ku di sebuah lembah kecil, kabar kan padaku tentang kisahnya". Kau tau? Itu adalah permintaan seorang wanita muda hebat yang sedang jatuh cinta. Seperti sabda yang pernah ku baca tentang dua insan yang dikiaskan bak cermin. Wanita hebat itu jatuh cinta pada lelaki luar biasa, dan sudah tentu perasaan itu adalah hal yang luas biasa pula. Aku sudah menjelajahi ribuan kalimat dan memilah-Milah kalimat yang tepat. Maaf mengecewakan mu nona, kekasih mu itu telah wafat.  Bagian terbaiknya aku mendengar gubahan dari laut merah, tentang dia yang juga mencintaimu. Dan tebak apa lagi, cintanya jauh lebih besar. Rindu mu terjawab, tidak jadi satu suara yang kesepian. Ia di dengarkan. Kau tau ? Kekasih mu itu penuh cinta, maaf jika kau sedikit ...