Rasanya baru kemaren kita saling tanya
nama lalu tertawa bersama. Mengukir satu demi satu cerita dalam rutinitas dan
menjadi terbiasa berbagi suka duka.
Seiring waktu berjalan, habis sudah
kesempurnaan kita yang tersisa hanya jelek-jelek nya saja. Ego kita sebagai
manusia tak terima. Seperti orang yang kita kenal dekat sudah dirampas oleh
orang asing dengan paras yang sama.
Lalu muncul kekecewaan demi kekecewaan,
keluhan demi keluhan. Bahagia pun sudah pergi entah kemana. Tawa jadi jarang
mampir sebab segan pada pertengkaran perkara sepele. belum lagi waktu-waktu
yang membuat jarak dengan alibi sibuk, mengantuk, sinyal buruk dan majas-majas
lain yang artinya sebenarnya sama saja.
“Aku gak kenal kamu”
“Kamu bukan lagi prioritas ku”
“Aku butuh cerita baru”
Kekesalan demi kekesalan yang ditahan untuk rebutan jadi bijak akhirnya jadi bumerang, hal-hal baik pun hilang dari pandangan yang berkabut amarah lalu berubah benci yang menjadi-jadi.Yang muncul kemudian hanyalah tanda tanya besar, "kita ini siapa?" Iblis datang untuk bisik-bisik, bilang "kamu paling sempurna" kita lalu tergoda untuk jadi pemeran antagonis dalam kisah yang kita tulis dengan harapan akhir bahagia. Tapi sayang, kita sendiri yang jadi penjahatnya.
Well, pada akhirnya semua akan menjadi
asing di dalam waktu
Tak perduli seberapa lekat yang dekat
akan bersekat.
Pada akhirnya, tidak ada kata-kata lebih
baik daripada menyapa hanya untuk memperjelas keterasingan kita.
Jangan terlalu ambil hati, dari awal kita
memang bukan siapa-siapa dan berakhir untuk tidak menjadi siapa-siapa
Singkatnya, beberapa pertemuan tidak
selalu kita menangkan dengan hadiah kenangan. Sebab beberapa kenangan harus
dipulangkan pada takdir yang arogan. Sayang sekali bukan? Iya, kita seringkali
kalah dalam pertarungan dengan diri sendiri.
Mantap yu👍
BalasHapus