Langsung ke konten utama

Mimpi Lelucon, Lelucon Mimpi

 


Satu malam di selasar kota. Aku masuk di sebuah gang sempit, remang-remang dan sunyi seperti suasana pada adegan film hantu. Jujur saja hantu bukan masalah pelik yang sering menjadi ketakutan ku. Menurut ku sumber ketakutan terbesar adalah manusia, ya sialnya aku juga manusia. Seperti lagu nya bang iksan skuter "menjadi manusia adalah masalah buat manusia" Aku suka lagu-lagu klasik seperti itu, seperti ayah ku. Ya, banyak hal yang mirip dalam selera kami, seperti puisi, lagu, makanan dan game-game terbaru setiap tahun nya. Oh ya, tapi bukan itu maksud ku. Mari kembali pada aku yang berjalan menyusuri gang sempit remang-remang ini.

Langkah kecil ku melaju cepat-cepat takut setan berwujud manusia kesurupan karena melihat kesempatan pada gadis kecil yang pulang malam-malam. Katanya setan punya sifat angkuh pada kelemahan makhluk lain. Saking terburu-buru nya aku sampai di ujung gang yang ternyata lebih terang.

"Loh kok siang? " Rasanya seperti masuk ke dunia lain

Aku menoleh kebelakang, gang itu sudah tak ada. aku berada di tengah-tengah kota. Ramai tapi terlalu sibuk, Orang-orang punya urusannya masing-masing. Tapi sepertinya memang karena aku orang asing. Bukan, ini bukan pantun. Aku kebingungan, belum sempat bertanya seseorang lebih dulu menyapa ku.

"Apakah kamu melakukan perjalanan waktu?" Tanya nya. 

"Aku tidak begitu yakin" Jawabku. 

Dia memperhatikan ku dari ujung rambut sampai ujung kaki, oh maaf, maksud ku dari ujung kepala sebab aku memakai hijab. Aku terbiasa membaca telenovela yang dramatis jadi kalimatnya terbawa-bawa.

"Aku minke" Ia mengulurkan tangan. 

"Aku cempaka" Salam kenal. 

Aku menghela nafas pelan sebelum tersentak kaget, melihat kumis nya yang melintang. Jangan tertawa ya. Ini serius aku pernah baca dan nonton film nya berkali-kali.

"Minke, Minke kau Minke, bukan nama asli bukan?" Tanya ku setengah berteriak.

"Kau ini bicara apa? Bahasamu terlalu berantakan" Katanya dengan ekspresi datar. 

"Apakah aku terlempar pada masa penjajahan? "

"Penjajahan?" Ia bertanya sambil melebarkan matanya kemudian tertawa terpingkal-pingkal. 

"Ini sudah 2023, kau jangan terlalu sarkas pada pemerintah" Ucapnya masih setengah tertawa.

Jujur saja aku semakin bertambah bingung. Ternyata aku tidak pergi kemana-mana. Aku jadi garuk-garuk kepala padahal sebenarnya sama sekali tidak gatal.

"Ku pikir kau sudah mati dan dinobatkan jadi pahlawan 7 tahun silam" Ucap ku dengan wajah menyedihkan. 

"Cih, bocah sialan jangan sembarangan"

"Apa kau mati suri?"

"Hei, hei, sudah ku bilang jangan bicara sembarangan, sekali saja ku tulis nama mu dengan pena ku habis lah sudah kau" Ujar nya kesal. 

"Asal kau tau aku pewarta paling tersohor dan seluruh berita ku adalah pisau bermata dua paling jujur di negeri ini. Semua orang tau itu" Sambungnya lagi. 

"Apa kau menceritakan tentang penjajahan periode ke 2, dimana kejahatan terang-terangan begitu nyata dan rakyat yang putus asa? Atau kebodohan, ketertinggalan dan orang-orang pintar yang tak berani melawan" Tanya ku kemudian. 

"Apa-apaan barusan? Sinting! Mana ada hal seperti itu, ini sudah 2023 kau mau dipenjara? Tidak, tak ada hal yang seperti itu"

"Lalu?"

"Aku disini untuk berita wabah gila, dan hewan pengerat yang disinyalir jadi media penghantar nya. Kau tak rasa bau busuk sejak tadi hah? Pulau ini sebetulnya sudah lama mati, wabah itu tidak ada obatnya".

"Kalau tak ada obatnya buat apa kau beritakan lagi, mending lari saja keluar negeri" Ucapku. 

"Halah, banyak bicara. Minggir sana" Ucapnya sambil mendorong tubuh ku kesamping. 

"Hei Minke tunggu"

Aku berbalik ingin mengejarnya tapi seseorang menabrakku dengan keras hingga jatuh. 

"Aw" Aku meringis kesakitan

Mata ku terpejam beberapa detik dan entah bagaimana aku sudah berbaring di tempat tidur dengan alarm pagi yang berdering nyaring disamping ranjang. Ditangan ku sebuah buku bumi manusia karya pram.

"Apa aku bermimpi?" Batin ku. 

Aku ingin berlama-lama termenung memikirkan itu tapi tak ada waktu, aku harus berangkat sekolah secepatnya, ibu pun tak bisa menunggu dia harus pergi kekantor bersama ayah agar bisa bayar pajak ditambah biaya makan dan sekolah ku. Beban nya berlipat-lipat nanti. Hal-hal sepele seperti itu lupakan saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rumah Kosong

Sydney adalah sebuah rumah minimalis yang cantik dan sederhana. Berdiri ditengah sebuah kota  kecil yang damai. Pemiliknya adalah harry seorang pria yang kini sudah lanjut usia. Sudah begitu banyak kenangan yang mereka ciptakan bersama. Hari ini Harry akan pindah ke kota yang lebih besar. Hans anaknya telah sukses dalam perantauan dan membeli rumah baru di sana. Karena Hans adalah anak yang berbakti dan sayang dengan keluarganya dia memboyong Harry untuk tinggal bersama dirumah yang lebih mewah. Hari ini cukup berat bagi rumah dan pemilik rumah itu. sydney yang ramah sudah dikenal baik oleh kawanan burung pipit, pohon-pohon perdu bahkan anjing-anjing liar di kota itu. “Duk” sesuatu menimpa atap Lembaran daun kelor yang telah diikat rapi menjadi satu. Sebuah surat dari kawanan burung pipit yang terbang belum jauh dari rumah itu. hampir saja surat itu jatuh tepat diatas kepala Hans yang tengah berbenah di halaman. Namun buru-buru Sydney menahannya dengan talangan di atap yang b...

Janji seorang Pengelana

Aku seorang pengelana senja. Dulu sekali ada janji yang belum aku tepati. Hampir saja aku pensiun mengelana tapi janji itu tiba-tiba saja mampir di sudut memori ku. "Kau seorang pengelana kan?" "Aku?" Tanya ku "Temuilah kekasih ku di sebuah lembah kecil, kabar kan padaku tentang kisahnya". Kau tau? Itu adalah permintaan seorang wanita muda hebat yang sedang jatuh cinta. Seperti sabda yang pernah ku baca tentang dua insan yang dikiaskan bak cermin. Wanita hebat itu jatuh cinta pada lelaki luar biasa, dan sudah tentu perasaan itu adalah hal yang luas biasa pula. Aku sudah menjelajahi ribuan kalimat dan memilah-Milah kalimat yang tepat. Maaf mengecewakan mu nona, kekasih mu itu telah wafat.  Bagian terbaiknya aku mendengar gubahan dari laut merah, tentang dia yang juga mencintaimu. Dan tebak apa lagi, cintanya jauh lebih besar. Rindu mu terjawab, tidak jadi satu suara yang kesepian. Ia di dengarkan. Kau tau ? Kekasih mu itu penuh cinta, maaf jika kau sedikit ...