Langsung ke konten utama

Postingan

Puisiku

Suatu waktu aku akan hilang Dalam hening yang tenang Suatu waktu mungkin aku pergi Dalam waktu yang berlari Kau tau kan? Aku suka puisi Meski kau tiada di dalamnya Puisiku Sedang aku tulis Agar nanti bisa selalu kau baca Lalu kau berlogika mencari maknanya Puisiku Aku menulisnya dengan waktu Jadi jangan baca buku Baca saja aku

Destiny

(4) _ Hukuman_ Well, anggap saja karena manajemen waktu yang kurang berhasil, aku meninggalkan beberapa kegiatan pra pelatihan jurnalistik tingkat dasar (PJTD), itu merupakan salah satu syarat wajib untuk bisa menjadi anggota penuh di LPM Sukam. Dan tibalah waktu screening test yang dimulai satu hari sebelum PJTD. “Ayra Saputri, maju!” salah seorang panitia laki-laki berambut gondrong memangil namaku dengan nada marah. “what the hell?” aku membatin.              Ini hal klasik yang sudah aku pahami, aku pernah melalui jalan yang sama untuk tujuan berbeda. Ya, aku kenal betul drama ini dan paham bahwa kesalahan ku memang pas untuk aku menjadi target sasaran empuk. Hilma menatap khawatir dari kursinya, aku cukup mengerti ini pertama kali bagi Hilma. Aku maju dengan santainya, kemudian nama-nama lainya di sebut. “Kalian yang didepan ini serius gak sih mau menjadi seorang jurnalis?” “Serius” ucap kami serempak “Bohong!” ...

Paradise

"kali ini tidak hanya perasaan ku, tubuh ku juga ikut berpatah hati" (Anne) Bagi seorang penyair, patah hati terdalam adalah puisi terbaik. Kabar baiknya aku bukanlah seorang penyair atau sejenisnya, hanya saja aku suka menulis. Aku Anne bukan ant. Seorang gadis kecil yang telah dikenal baik oleh orang-orang yang menghabiskan hidupnya untuk bekerja keras demi perut di malam hari di bawah sinar rembulan, jika tidak mendung atau sedang turun hujan. Aku punya mimpi-mimpi besar yang sama sekali tidak ingin aku wujudkan. Salah satunya membuat dunia hanya diisi oleh orang-orang kaya raya dan baik. tidak ada rampok, gelandangan, koruptor, penguasa dzalim, buaya darat baik itu betina ataupun jantan dan lain sebagainya. Ya, seandainya saja itu terwujud   aku pastilah tuhan, dan tuhan tidak akan melakukan itu. sebab hidup ini telah dirancang untuk mempunyai banyak warna. Hitam, putih dan abu-abu. Ada yang jahat agar baik terlihat. Masing-masing menjadi pengajaran ...

Bukan Jalan Terakhir

Malam itu suasana paling nyaman mendekap erat ruang tamu keluarga kami. Di depan televisi ada bapak dengan kopi hangat nya, sedang aku, ibu, dan adik dengan gelas teh hangat kami masing-masing dan sepiring besar singkong goreng untuk dinikmati bersama. Sempat gaduh beberapa kali, perihal selera acara yang tidak sama diantara kami berempat, hingga akhirnya satu pemberitaan mengenai virus yang sedang trending dari daerah wuhan di China menyatukan minat penasaran kami. "Itulah, bukti bahwa Islam itu memang hebat"  bapak berkomentar lebih dulu "Allah itu maha sayang, bahkan sampai makanan pun kita diatur apa yang haram tidak boleh dimakan dan mana yang halal, ya demi kebaikan kita juga" sambung bapak. Cici adik cantik ku yang sudah kelas 2 SMA itupun ikut berkomentar "Tenang aja pak, virus gituan ga bakal berani masuk negara kita. Minum air mentah aja ga sakit perut kayak orang luar negeri, makanan jatoh ke lantai aja dibilang belum 5 menit, ...

PERS MAHASISWA DIPERKOSA AKTIVIS DAN POLITIKUS KAMPUS

“Aku ingin menceritakan sebuah dongeng” Pada suatu hari, pagi-pagi sekali pintu kamar kosku digedor oleh seseorang. Keras sekali, hingga aku terbangun dengan jantung berdebar tak karuan. Padahal   tadi malam, aku bergadang dan baru tidur menjelang subuh. Setelah semua agenda diskusi dengan para calon wakil mahasiswa aku pulang, sesampai di kamar aku tak langsung tidur sebab beberapa berita belum rampung penulisannya. Tak bisa menunggu besok, berita lebih cepat basi ketimbang makanan. Kepala ku terasa sakit karena bangun dalam keadaan terkejut. Beberapa detik setelah berhasil mengontrol perasaanku sendiri   aku bergegas, ternyata Lina sahabat karibku sudah berdiri dengan tangan terlipat saat pintu kamar kubuka. Tanpa menunggu perintah ia menerobos masuk dengan tampang tidak seperti biasanya. Untuk beberapa saat, aku hanya terpaku di tempatku berdiri. “Kampus sedang heboh”. Ungkap Lina tanpa basa basi. “Kamu gak usah ikut-ikutan ya”. Sambungnya. “Hei, d...

Ranjau Batman

Siang itu, di sebalik remang daun-daun kecil yang sedikit memberi keteduhan dari terik matahari di jalanan berdebu. Aku melangkah tergesa, berpeluh di dahi berkeluh di hati. Sudah 10 menit berlalu dari jadwal kuliah yang di tetapkan. Aku terlambat. Tidak menyerah meski hanya ada 5 menit keberuntungan untuk tetap dapat mengikuti perkuliahan hari ini. “kring..” suara handphone berdering diikuti getaran kecil di dalam tas yang sedang ku jinjing setengah hati. Berat. Bukan karena buku dan sebotol air minum yang ada di dalamnya. Tetapi lebih kepada pegangan erat kawan manis ku pada sampiran tas itu yang menambah lebih dari setengah beban yang ku sandang. Tak lagi perduli pada dering handphone yang sedari tadi bersenandung riang. Juga pada keluh kesah teman seperjalanan ku. “kenapa tidak diangkat?” tanya kawan ku itu di sela-selah rengekan lelahnya “biar saja” ucap ku hampir tak terdengar. Bukan peramal memang, namun aku sudah dapat memprediksikan siapa yang menelepon....

Cerpen

Isyarat  “sejak mentari terbenam sore itu, pagi tak pernah datang lagi” waktu itu, senja merangkak perlahan, katanya mentari kan pulang ke peraduan. Sedang aku, masih dalam perjalanan menembus hujan, alangkah basah aroma tanah yang ku hirup kala itu. Waktu berputar sedikit ke belakang menembus batas ingatan ku. Tak sejalan dengan pacu roda kendaraan yang menggilas jalanan terjal dan bebatuan, ia terus saja melaju kedepan. Sama halnya seperti aku saat berada di hadap senja-senja pada masa sebelumnya. “Pulanglah, engkau telah lama pergi” ucap bias senja tanpa suara. Namun begitulah aku enggan menoleh. “sedikit lagi” pikirku. Sedikit lagi sampai aku pada puncak gunung yang susah payah aku daki, mengorbankan waktu dan tenaga. Aku terlalu letih untuk berhenti barang sesaat kali ini. “Pulanglah, mata air telah menunggumu hingga keruh” bisik senja pada gawai yang setia menyampaikan rindunya padaku. Aku bahkan tak perduli. Hingga suara-suara matahar...