Langsung ke konten utama

Postingan

Dia Kipas Angin

Di ruang ini rasanya sudah ribuan cerita yang dia dengar, jika jadi manusia mungkin sampai termuntah-muntah saking bosannya. Di ruang ini sudah berpak-pak tisu habis di depannya, andai jadi manusia mungkin sudah basah bajunya terkena air mata juga pegal pundaknya menahan peluk yang menyedihkan. Zaman sudah terlalu canggih, jam dinding hanya ada di ruang umum saja, seperti dapur atau mungkin ruang tamu. Banyak yang tergantikan segala macam tetek bengek pajangan di kemas dalam satu bentuk ponsel pintar. Mau lihat tanggal, mau lihat jam, mau menyetel alarm, mau melihat foto tinggal menggeser layar saja. Iya, banyak yang tergantikan, tapi aku enggan menggantikan dia. Selain lebih cocok dengan ruangan ini, dia juga lebih ekonomis tentunya. Seperti biasa dia diam di tempat paling strategis di ruangan ini dan aku di hadapannya. Sunyi. Tapi dia ada, suaranya memberi sedikit kesan tenang. Gawai tak terlalu menarik saat terlalu sedih, sebab separo permasalahan berasal dari sana. Inform...

Kisah yang Terperangkap

  Di sudut kota besar keadaan tak selalu ramai, tidak pula selalu damai. Ada ratusan bahkan mungkin ribuan cerita terperangkap dalam lorong-lorong gelap, terhalang oleh tembok-tembok raksasa yang menjulang tinggi ke langit. Dalam kehidupan makhluk yang bernama manusia, perang tak pernah berakhir. Seorang bocah linglung dengan memar di sekujur tubuhnya. Bukan, bukan tak ada yang perduli. Hanya saja, tak ada yang tau, tak ada yang melihat. Ini sudut di kota besar dalam dunia yang luas. Hanya sebagian kecil   seperti titik atau bahkan lebih kecil dari itu. Beberapa tikus dari selokan kotor berlalu-lalang, tak perduli dan tak kenal takut pada bocah itu. iya, memang begitu seharusnya. Tikus yang lapar dan seorang anak kecil yang tak berdaya, mereka tidak memiliki kepentingan untuk saling sapa. Berjalan beberapa langkah dari lorong gelap adalah jalan utama di kota besar, terdapat toko-toko makanan, pakaian, perhiasan berjejer rapi sebagai topeng sekaligus sebagai bukti sah mel...

Seribu Pertanyaan

Malam sedang teduh, suara jangkrik bersahutan dan rembulan menyinari sebagian bumi dengan terang setelah hujan. " Yang salih itu tidak akan bertemu dengan yang salah, maksiat itu tidak akan bertemu dengan taat. Sederhana " suara tausiyah seorang ustadz terdengar dari YouTube beriringan dengan nada ketikan papan keyboard laptop. Seorang gadis tengah khusyu mengerjakan beberapa dokumen di kamarnya yang nyaman. "Gina ( tok-tok )" lamat-lamat terdengar suara pintu di ketok dari arah luar semakin lama semakin keras sebab tak mendapat jawaban Gadis itu tersadar dan mem- pause video yang sedang di putar nya. "Iya tunggu sebentar" ucapnya panik sambil mencari jilbab dan baju kurung yang akhirnya ia comot sembarangan dari lemari ibunya. "Ada apa?" Tanya Gina saat membuka pintu rumah dan mendapati tamunya sedang berdiri memunggungi pintu menghadap ke jalan dengan bahasa tubuh cemas "Gina beberapa hari ini Irma ada pinjam sepeda motor Ka...

Tuan Sherif

  Jauh di Utara Afrika, padang pasir membentang dari samudera Atlantik hingga ke Laut Merah. Tandus dan gersang. Seorang gadis tampak tersesat dan kehilangan arah, kalah oleh gunung-gunung pasir yang berubah arah tanpa dapat diprediksi. Namun itu beberapa waktu yang lalu, kini tinggallah seorang sherif dengan daerah kekuasaan nya yang luas itu sendirian. Menatap dengan ingatan yang mungkin akan ia putar ber-ulang-ulang, setiap kali memandang jauh kedepan. Iya, gadis itu telah ditolong oleh seorang sherif yang terkenal di gurun sahara. Dan hari ini, setelah waktu-waktu berlalu dengan kebisuan, tepat ketika matahari menyapa seekor rajawali datang dengan sebuah surat di cengkraman cakarnya. Tuan sherif yang terhormat, surat ini dari seorang gadis petualang yang kala itu kau dapati dalam keadaan payah lagi kebingungan. Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya untuk anda karena telah menyuguhkan sebotol air saat saya kehausan di tengah badai gurun yang mengamuk. Terimakasih pula s...

Bulan Melukis Senja

  “Jika sinarmu dinantikan oleh semesta, maka bersinarlah dan jangan pernah redup” (Rembulan) Ada milyaran manusia di atas bumi tuhan yang mungil ini. Namun, hanya ada satu senja untuk masing-masing mata yang mencintai langitnya. Jika sukap terlampau bodoh mencuri senja untuk Alina yang teramat sangat dicintainya. Berbeda dengan bulan yang mencintai senja nya dengan cara yang amat bersahaja. Hari itu untuk pertama kalinya, ku pikir, aku melihat senyum tuhan di langit sebelah barat kala mentari akan terbenam menuju malam. Setiap hari tanpa absen barang sekali pun   aku sempatkan mendaki hanya untuk mengucapkan “Sampai jumpa kembali”. Kau tau setelah itu? Ada banyak hal yang membuat cahaya bulan tiba-tiba menjadi redup. Seperti saat mendadak langit diselimuti mega hitam, atau sesaat setelah reda nya hujan yang menyisakan tanah licin di kaki gunung. Di lain hari aku menatap mu. Dari tempat yang lebih rendah. Tapi engkau tak tampak di mata ku, begitupun sebaliknya. Buk...

izinkan Aku Pulang

Izinkan aku pulang Membekal sabar yang hampir hilang Dipukul, ditendang, dibakar hingga terkapar Izinkan aku pulang Membekal ikhlas yang sudah samar Terbentur, memar berdarah tak kunjung sudah Izinkan aku pulang Bukan pada rumah  Atau sekadar tempat singgah Bukan pada ibuku Atau rahim yang mengandungku Izinkan aku pulang Bukan untuk rehat  Lalu berjalan lagi Izinkan aku berhenti saja  

Bawi Mandau

"Sebuah budaya bangsa tinggal di hati dan di dalam jiwa rakyatnya"  (Mahatma Gandhi 1869-1948) Di penghujung waktu yang terus menggelinding di dalam jam dinding, berdetak kehidupan yang menggusar sebab berubah tanpa negosiasi dan tak mau tau perihal menunggu siap.   Adalah bawi Mandau seorang gadis berkulit putih bersih dengan mata bening berbinar-binar yang hanya mengenal belantara rimba, berjalan pulang ia menuju Betang yang perkasa dan aman.   Pada Februari 2001, Waktu itu malam sedang tak damai, dilihatnya langit di timur dan barat memancarkan warna kemerahan tak seperti biasanya, itu pertanda yang hanya belantara dapat melukisnya dan hanya bawi serta kelompoknya yang mengerti.   Benar saja, belum lagi hilang kecemasan bawi, dua panglima bertandang dari sebuah tempat antah berantah. Satu berwujud burung satu berwujud kumbang.   Bawi seorang gadis yang halus perasaannya, mudah menangis dan iba itu kini harus memenuhi takdir sebagai pewaris lel...