Langsung ke konten utama

Postingan

Untuk Ra

  Tulisan ini untuk Ra, kekasihku yang sederhana dan penuh keajaiban. Ra jika menulis kalimat fiksi hanya akan membuat mu berpikir banyak hal masih menjadi rahasia besar dalam perasaan ku, bagaimana jika kita bercerita tentang hari ini saja. Tentang sesuatu yang lebih nyata dan tentunya lebih jujur.   Kau tau sudah hampir 365 hari berlalu bersama mu. Detik-detik dibelakang kita seolah bicara, pertemuan terbaik adalah yang penuh kejutan kebahagiaan. Jika bisa memilih, tentu aku mau 365 hari kemarin, kemarin dan kemarinnya lagi juga diisi nama mu lalu sisa nya juga tentang kamu.   Ra banyak orang bisa berjanji tentang apapun itu tapi kamu lebih memilih untuk membuktikan nya. Belakangan hari-hari semakin sulit, namun mendengar suara mu saja sudah lebih dari cukup sebagai penawar nya. Seperti tak masalah cuaca berganti asalkan kita punya rumah yang nyaman untuk berteduh.   Terimakasih Ra, sudah memberi ku alasan untuk tetap bertarung dengan segala ketidakmung...

Catatan Mou (Ini Bukan Buku Harian)

Selamat bermalam Selasa Hai, so long time no see Aku Mou, dan aku suka menulis karena aku suka membaca. Aku selalu bilang tentang membaca pada teman baik ku Irene bahwa membaca tidak selalu tentang buku yang memiliki lembaran-lembaran dengan halaman di rak perpustakaan. Atau literasi-literasi dengan peraturan baku dan ejaan yang disempurnakan. Membaca bisa tentang apa saja yang mata kita tangkap, dan telinga kita dengar, membaca juga bisa tentang merasa dengan indera perasa yang kita miliki.   Ini bukan diary, tapi sering kali orang bilang kisah mereka tertulis disini. Aku sempat berfikir untuk tidak menulis lagi. Karena pernah membaca kesedihan dalam satu halaman yang begitu berkesan menurut ku. Halaman yang indah dan penulis yang hebat membuat ku terbawa suasana, kesedihan yang dalam pada suatu alur cerita. Dan suatu ketika tokoh favorit ku harus mati, aku merasa tenggelam dalam kisah itu. Hingga berfikir kematian juga lebih baik untukku. Lama waktu berlalu, hingga aku me...

Tutup Usia

Hari ini aku mungkin tak menulis lagi. Karena kalimat-kalimat ku sedang berduka cita. Kemarin tulisan-tulisan ku wafat dan dimakamkan di Tempat pemakaman umum terdekat.  Tak ada yang bertakziah. Hanya aku yang datang dengan bunga dan doa-doa. Diwaktu mendatang aku akan kembali untuk membersihkan makam nya. Mencabuti rumput dan membasahi tanahnya dengan air mawar barangkali. Meski musim sedih kali ini lebih panjang, aku tak bisa berlama-lama memanjatkan doa sebab hari ini untuk pertama kalinya aku jadi nahkoda kapal yang kutumpangi.  

Kala yang Mencintai Senja

Teruntuk kala yang mencintai senja. Waktu itu sewaktu langit penuh mega hitam dan rintik menjadi butiran tajam jatuh ke bumi. Senja sendirian tak ada suara juga tanpa cahaya. Teruntuk kala waktu itu, Aku tak tau mana yang harus aku kalahkan terlebih dahulu, amarahku atau ego mu Aku tak tau mana yang harus aku pertahankan terlebih dahulu, sabar ku atau cinta ku Ah rasanya terlalu dini untuk bicara perihal cinta. Mencintai diri sendiri saja aku tak tau caranya bagaimana. Saat ini kepala ku benar-benar pusing. Aku ingin berteriak dan menangis sekeras-kerasnya. Tapi sayang aku hanyalah gadis kecil yang terperangkap dalam tubuh dewasa yang tak ingin isaknya terdengar oleh telinga selain telinga ku sendiri. Sama saja kamu khawatir aku pun demikian. Tidak ada bedanya aku terluka, kamu pun tergores pula. Aku ingin pergi meninggalkan ruangan ini barang sejenak saja. Agar jika ada waktu luang bisa kau baca aku pada setiap dinding yang dingin, pada setiap cermin yang menatap sinis d...

Orang Asing

Rasanya baru kemaren kita saling tanya nama lalu tertawa bersama. Mengukir satu demi satu cerita dalam rutinitas dan menjadi terbiasa berbagi suka duka. Seiring waktu berjalan, habis sudah kesempurnaan kita yang tersisa hanya jelek-jelek nya saja. Ego kita sebagai manusia tak terima. Seperti orang yang kita kenal dekat sudah dirampas oleh orang asing dengan paras yang sama. Lalu muncul kekecewaan demi kekecewaan, keluhan demi keluhan. Bahagia pun sudah pergi entah kemana. Tawa jadi jarang mampir sebab segan pada pertengkaran perkara sepele. belum lagi waktu-waktu yang membuat jarak dengan alibi sibuk, mengantuk, sinyal buruk dan majas-majas lain yang artinya sebenarnya sama saja. “Aku gak kenal kamu” “Kamu bukan lagi prioritas ku” “Aku butuh cerita baru” Kekesalan demi kekesalan yang ditahan untuk rebutan jadi bijak akhirnya jadi bumerang, hal-hal baik pun hilang dari pandangan yang berkabut amarah lalu berubah benci yang menjadi-jadi. Yang muncul kemudian hanyalah tanda ta...

Dia Kipas Angin

Di ruang ini rasanya sudah ribuan cerita yang dia dengar, jika jadi manusia mungkin sampai termuntah-muntah saking bosannya. Di ruang ini sudah berpak-pak tisu habis di depannya, andai jadi manusia mungkin sudah basah bajunya terkena air mata juga pegal pundaknya menahan peluk yang menyedihkan. Zaman sudah terlalu canggih, jam dinding hanya ada di ruang umum saja, seperti dapur atau mungkin ruang tamu. Banyak yang tergantikan segala macam tetek bengek pajangan di kemas dalam satu bentuk ponsel pintar. Mau lihat tanggal, mau lihat jam, mau menyetel alarm, mau melihat foto tinggal menggeser layar saja. Iya, banyak yang tergantikan, tapi aku enggan menggantikan dia. Selain lebih cocok dengan ruangan ini, dia juga lebih ekonomis tentunya. Seperti biasa dia diam di tempat paling strategis di ruangan ini dan aku di hadapannya. Sunyi. Tapi dia ada, suaranya memberi sedikit kesan tenang. Gawai tak terlalu menarik saat terlalu sedih, sebab separo permasalahan berasal dari sana. Inform...

Kisah yang Terperangkap

  Di sudut kota besar keadaan tak selalu ramai, tidak pula selalu damai. Ada ratusan bahkan mungkin ribuan cerita terperangkap dalam lorong-lorong gelap, terhalang oleh tembok-tembok raksasa yang menjulang tinggi ke langit. Dalam kehidupan makhluk yang bernama manusia, perang tak pernah berakhir. Seorang bocah linglung dengan memar di sekujur tubuhnya. Bukan, bukan tak ada yang perduli. Hanya saja, tak ada yang tau, tak ada yang melihat. Ini sudut di kota besar dalam dunia yang luas. Hanya sebagian kecil   seperti titik atau bahkan lebih kecil dari itu. Beberapa tikus dari selokan kotor berlalu-lalang, tak perduli dan tak kenal takut pada bocah itu. iya, memang begitu seharusnya. Tikus yang lapar dan seorang anak kecil yang tak berdaya, mereka tidak memiliki kepentingan untuk saling sapa. Berjalan beberapa langkah dari lorong gelap adalah jalan utama di kota besar, terdapat toko-toko makanan, pakaian, perhiasan berjejer rapi sebagai topeng sekaligus sebagai bukti sah mel...