Langsung ke konten utama

Postingan

Fatadra

 (Dimana dongeng bermula) Seorang gadis sedang menggambar matahari untuk ditunjukan pada ibunya. Namun malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih. Sepasang suami istri bangsawan yang sedang melintas melihatnya. Istri bangsawan hamil besar. "Sayang berikan aku lukisan yang dipegang anak itu aku menginginkan nya".  Tanpa menunggu ia menghampiri gadis kecil itu. "Hai nak, siapa namamu?" "Aku Fatadra dan aku menyukai matahari" Bangsawan terkekeh "kau menamai dirimu seperti nama kota ini nak" ucap suami bangsawan. "Berikan lukisan itu, kau akan kuberikan hadiah permen" "Lukisan ini untuk ibuku" sang anak menolak Bangsawan yang terbiasa selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan tanpa bantahan pun merasa tersinggung dan merebut paksa lukisannya. Sang anak menangis sampai gemetar, sebab tak mampu mempertahankan haknya. Sedang orang-orang yang melihat hanya memberi sumpah serapah secara bisik-bisik. Sebab uang menciptakan sebua...

Tentang Manusia dan Segala Kompleksitasnya

Kalo kamu cape, istirahat Kalo pengen nangis ya nangis. Jangan waktunya nangis kamu malah ketawa. Gaada yang aneh menjadi berperasaan. Toh kamu menjadi manusia bukan karena orang lain berpendapat kamu adalah manusia. Tentang sedih, senang, dan berbagai hal lainnya. Terkadang, kamu hanya perlu merayakannya. Entah dirayakan sendiri atau berbagi sama ahli psikologi versi kamu.  Nama nya juga hidup. Pahit manis itu udah kaya warna bukan lagi tentang rasa. Kayak lagunya maroon 5 "Not everything is rainbow and butterflies" Nanti, kalo pesta perasaannya udah usai. Kamu bisa menemukan hal baru yang mungkin belum pernah kamu lihat sebelumnya. Hidup itu kayak praktek uji coba di laboratorium canggih loh. Berbagai energi bisa dikonversikan. Kalo sedih ga bisa digantikan senang, ya manfaatin aja rasa sedih nya jadi tulisan, lagu, lukisan, atau energi buat kamu keliling lapangan seratus kali mungkin. Jadi, apa kamu gak tertarik untuk melihat eksperimen apa aja yang bisa dilakukan dengan m...

Janji seorang Pengelana

Aku seorang pengelana senja. Dulu sekali ada janji yang belum aku tepati. Hampir saja aku pensiun mengelana tapi janji itu tiba-tiba saja mampir di sudut memori ku. "Kau seorang pengelana kan?" "Aku?" Tanya ku "Temuilah kekasih ku di sebuah lembah kecil, kabar kan padaku tentang kisahnya". Kau tau? Itu adalah permintaan seorang wanita muda hebat yang sedang jatuh cinta. Seperti sabda yang pernah ku baca tentang dua insan yang dikiaskan bak cermin. Wanita hebat itu jatuh cinta pada lelaki luar biasa, dan sudah tentu perasaan itu adalah hal yang luas biasa pula. Aku sudah menjelajahi ribuan kalimat dan memilah-Milah kalimat yang tepat. Maaf mengecewakan mu nona, kekasih mu itu telah wafat.  Bagian terbaiknya aku mendengar gubahan dari laut merah, tentang dia yang juga mencintaimu. Dan tebak apa lagi, cintanya jauh lebih besar. Rindu mu terjawab, tidak jadi satu suara yang kesepian. Ia di dengarkan. Kau tau ? Kekasih mu itu penuh cinta, maaf jika kau sedikit ...

Rumah Duka

                                 Berlin 10 November 2019 Teruntuk Pra yang melayat dirumah duka ku. Kau tersenyum angkuh di atas peti mati itu. Seakan bicara pada dunia, hanya suara mu yang boleh bergema. Pra di bagian mana aku pernah melukai mu. Ada keegoisan yang kau balut dalam rasa peduli itu. Aku tak sanggup menatap balik dunia yang mengancam ku dengan tatapannya. Aku selalu kalah dan ditertawakan. Pra waktu itu kenapa harus aku yang menjadi pilihannya. Apa aku pernah meminta menjadi bagian dari takdir menyedihkan ini. Aku paham betul bahwa sulit untuk saling mengerti satu sama lain. Tapi pahamilah, kita merupakan dua bagian yang berbeda. Dua sisi yang berhadapan. Aku muak pra dengan semua luka-luka yang menganga dan kian membusuk dalam ingatan ini. Usahaku untuk menyembuhkan diri sudah semaksimal mungkin. Pra aku ingin mengakhiri hidupku. Tapi sepertinya masih ada sisa usia dalam raga Ku. Aku haru...

Untuk Ra

  Tulisan ini untuk Ra, kekasihku yang sederhana dan penuh keajaiban. Ra jika menulis kalimat fiksi hanya akan membuat mu berpikir banyak hal masih menjadi rahasia besar dalam perasaan ku, bagaimana jika kita bercerita tentang hari ini saja. Tentang sesuatu yang lebih nyata dan tentunya lebih jujur.   Kau tau sudah hampir 365 hari berlalu bersama mu. Detik-detik dibelakang kita seolah bicara, pertemuan terbaik adalah yang penuh kejutan kebahagiaan. Jika bisa memilih, tentu aku mau 365 hari kemarin, kemarin dan kemarinnya lagi juga diisi nama mu lalu sisa nya juga tentang kamu.   Ra banyak orang bisa berjanji tentang apapun itu tapi kamu lebih memilih untuk membuktikan nya. Belakangan hari-hari semakin sulit, namun mendengar suara mu saja sudah lebih dari cukup sebagai penawar nya. Seperti tak masalah cuaca berganti asalkan kita punya rumah yang nyaman untuk berteduh.   Terimakasih Ra, sudah memberi ku alasan untuk tetap bertarung dengan segala ketidakmung...

Catatan Mou (Ini Bukan Buku Harian)

Selamat bermalam Selasa Hai, so long time no see Aku Mou, dan aku suka menulis karena aku suka membaca. Aku selalu bilang tentang membaca pada teman baik ku Irene bahwa membaca tidak selalu tentang buku yang memiliki lembaran-lembaran dengan halaman di rak perpustakaan. Atau literasi-literasi dengan peraturan baku dan ejaan yang disempurnakan. Membaca bisa tentang apa saja yang mata kita tangkap, dan telinga kita dengar, membaca juga bisa tentang merasa dengan indera perasa yang kita miliki.   Ini bukan diary, tapi sering kali orang bilang kisah mereka tertulis disini. Aku sempat berfikir untuk tidak menulis lagi. Karena pernah membaca kesedihan dalam satu halaman yang begitu berkesan menurut ku. Halaman yang indah dan penulis yang hebat membuat ku terbawa suasana, kesedihan yang dalam pada suatu alur cerita. Dan suatu ketika tokoh favorit ku harus mati, aku merasa tenggelam dalam kisah itu. Hingga berfikir kematian juga lebih baik untukku. Lama waktu berlalu, hingga aku me...

Tutup Usia

Hari ini aku mungkin tak menulis lagi. Karena kalimat-kalimat ku sedang berduka cita. Kemarin tulisan-tulisan ku wafat dan dimakamkan di Tempat pemakaman umum terdekat.  Tak ada yang bertakziah. Hanya aku yang datang dengan bunga dan doa-doa. Diwaktu mendatang aku akan kembali untuk membersihkan makam nya. Mencabuti rumput dan membasahi tanahnya dengan air mawar barangkali. Meski musim sedih kali ini lebih panjang, aku tak bisa berlama-lama memanjatkan doa sebab hari ini untuk pertama kalinya aku jadi nahkoda kapal yang kutumpangi.