Langsung ke konten utama

Postingan

De Javu

  Selembar schedule tergeletak di meja kerja yang berantakan. Aku hanya menatap santai layar ponsel sambil tangan kanan memegang risol favorit yang ku beli di warung langganan kantor ini. Pikiran ku melesat pada beberapa waktu di masa lampau. Seorang perempuan duduk di barisan bangku paling belakang perkuliahan, main game sambil menunggu giliran maju presentasi di kelas. Gadis paling acuh yang tak bisa diremehkan oleh orang sekitarnya. Berturut-turut menang berbagai lomba yang mengandalkan kejeniusan dengan para senior dan bahkan jadi orang dengan langkah yang paling panjang dikelasnya. Tak bisa diikuti kemalasan seperti itu dia membuat jalan sendiri. "Tahun terakhir harusnya kau lulus kuliah" "Iya aku memang berencana akan lulus" "Tapi kau malah mengemban tanggung jawab lain" "Agak sedikit terlambat, bukan berarti gagal" Aku menghela napas, tersenyum mengingat perulangan keadaan itu seperti dejavu yang terjadi berulang kali. Memoriku kembali mel...

Aku Juga Punya Luka

  Malam ini aku ingin terbang, karena tak punya sayap aku memutuskan untuk membeli tiket pesawat, tapi sesampainya di bandara aku kebingungan, gate yang mana, tujuan yang mana yang akan membawa ku padamu. Kau tau kenapa? Ada perasaan yang tak akan pernah sampai dan tak kemana-mana. Ia sendirian duduk di kursi tunggu hingga mentari tenggelam dalam kesibukan siang itu.  Uang ku habis dan tiket pesawat nya hangus. Aku berbalik arah pulang ke rumah. Jalan kaki saja, tak mampu bayar taksi yang sedari tadi wara-wiri menawarkan diri. Malam itu hujan, aku basah kuyup. Kau tak tau kan?  Iya tentu saja. Kau sedang senang-senang kabarnya. Kaki ku lecet keduanya, aku demam. Besoknya rindu ku sudah hilang. Demam ku pun turun. Tapi kau malah mampir ke rumah ku. Aku kunci pagarnya, kau malah lewat halaman belakang, aku kunci pintu nya kau malah mengetuk jendela.  "Ada apa" Tanya ku Kau diam saja. Kau bawakan kue coklat tawar untuk ku, aku suguhkan kau kopi dan kita duduk diam saja ...

Untitled

Pernah gak sih kamu berada pada satu keadaan yang diluar kotak sama seseorang, maksudnya out of the box gitu loh. Keadaan nya aneh, misalnya kaya, kalian gak ngomong tapi saling bicara, gak ketemu tapi saling ketemu gitu. Gimana ya jelasinnya. Diluar angkasa banget kan?  Kalo dipikir-pikir ternyata kata-kata itu terlalu miskin untuk mendeskripsikan suatu keadaan. Tapi sebenarnya yang complicated itu bukan keadaan nya sih, lebih ke perasaan yang hadir dalam keadaan itu. Contohnya kaya, kamu bisa  mendeskripsikan perasaan senang, sedih, marah, tapi ada perasaan-perasaan lain yang gak ada namanya. Percaya gak? Mungkin agak sulit dimengerti ya. Contoh sederhananya itu kayak misal ada dua orang beda agama pacaran. Logikanya kan mending gak usah pacaran, atau kalo udah terlanjur putus aja. But pada praktek lapangannya ada perasaan yang ga punya nama tadi nimbrung dalam keadaan mereka sehingga ter konversi lah keadaan simple tadi jadi keadaan "rumit". Paham kan?  Tapi apa iya ad...

Buih di Lautan

Hari ini aku pergi melihat lautan biru yang menenangkan. Aku berkaca pada airnya dan mencari-cari diri sendiri, adakah aku disana diantara ribuan buih-buih yang mengapung terombang-ambing oleh ombak yang bahkan tak seberapa. Siang terik, menuju senja di ujung waktu itu. Aku datang pada orang-orang beragam yang ramah senyum nya. Salah seorang diantara mereka adalah bapak paruh baya dengan badan tak terlalu tinggi. Baju kemeja sederhana berwarna biru seperti laut yang ku kunjungi. Entah magnet apa yang menarik kita saling bertukar sapa. Beliau banyak bercerita, seolah-olah sedang berkeluh kesah padaku. Katanya dia sudah datang 6 jam lebih awal.  "Luar biasa bapak ini" tanggap ku berusaha menunjukkan apresiasi kecil kala itu. "Iya, prinsip kita lebih baik menunggu daripada ditunggu oleh orang" ucap beliau dengan ekspresi serius yang sulit aku tafsirkan. "Aku melihat para penguasa ikut serta" kata nya kemudian dengan suara pelan "Oh ya?" Dalam hati t...

Bintang dan Sang Pengelana Malam

Sewaktu langit mulai membiru seperti lautan terdalam.Cahaya-cahaya buatan mulai menyala seperti ilusi, seperti anak-anak matahari yang gagah. Di jalan raya, dalam gedung-gedung, dalam rumah-rumah, bahkan gang-gang tempat berlalu lalang orang.  Seorang pria tengah duduk di salah satu kursi taman yang ada pada tiap beberapa meter trotoar jalan raya. Wajahnya terlihat murung, persis seperti penjudi yang kalah lotre. Beruntung langit tak sedang mendukung perasaannya. Wajah layu itu disirami sinar rembulan yang sejuk dan menentramkan. Di tengah kota, ramai suara pengharapan, suara kehidupan berwujud klaksok dan gas motor kendaraan. Namun, kebisingan itu hening entah mengapa.  Seperti pada lazimnya, dimana bulan bersinar ada bintang yang setia disisi nya. Pada hening ditengah keramaian itu bintang tertarik untuk saling bertukar tanya.  "Siapa nama mu?" Tanya bintang dengan suara lembut bergema Pria yang duduk di kursi pun menoleh, ada banyak pertanyaan saat melihat bintang bica...

PETRICHOR

Pada petrikor bulan November, hari-hari semakin senja, jalan semakin gelap sebelum menemui cahaya.  Pada petrikor bulan November tampaknya istikharah akan semakin panjang, sebab musim semi telah berlalu jauh meninggalkan kelopak-kelopak bunga di ujung jalan.  Pada petrikor bulan November, hidup hanya selalu tentang pilihan-pilihan terbaik yang bermuara di langit.  Pada petrikor bulan November ada gelisah tak kunjung menepi menunggu pergi di desak kembali, oleh waktu, oleh asa, oleh cinta, oleh segala hal yang selalu datang tiba-tiba.  Pada petrikor bulan November suara-suara kian ramai dalam puisi yang damai. Pinta semakin bising pada malam yang hening. 

Fatadra

 (Dimana dongeng bermula) Seorang gadis sedang menggambar matahari untuk ditunjukan pada ibunya. Namun malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih. Sepasang suami istri bangsawan yang sedang melintas melihatnya. Istri bangsawan hamil besar. "Sayang berikan aku lukisan yang dipegang anak itu aku menginginkan nya".  Tanpa menunggu ia menghampiri gadis kecil itu. "Hai nak, siapa namamu?" "Aku Fatadra dan aku menyukai matahari" Bangsawan terkekeh "kau menamai dirimu seperti nama kota ini nak" ucap suami bangsawan. "Berikan lukisan itu, kau akan kuberikan hadiah permen" "Lukisan ini untuk ibuku" sang anak menolak Bangsawan yang terbiasa selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan tanpa bantahan pun merasa tersinggung dan merebut paksa lukisannya. Sang anak menangis sampai gemetar, sebab tak mampu mempertahankan haknya. Sedang orang-orang yang melihat hanya memberi sumpah serapah secara bisik-bisik. Sebab uang menciptakan sebua...