Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Ranjau Batman

Siang itu, di sebalik remang daun-daun kecil yang sedikit memberi keteduhan dari terik matahari di jalanan berdebu. Aku melangkah tergesa, berpeluh di dahi berkeluh di hati. Sudah 10 menit berlalu dari jadwal kuliah yang di tetapkan. Aku terlambat. Tidak menyerah meski hanya ada 5 menit keberuntungan untuk tetap dapat mengikuti perkuliahan hari ini. “kring..” suara handphone berdering diikuti getaran kecil di dalam tas yang sedang ku jinjing setengah hati. Berat. Bukan karena buku dan sebotol air minum yang ada di dalamnya. Tetapi lebih kepada pegangan erat kawan manis ku pada sampiran tas itu yang menambah lebih dari setengah beban yang ku sandang. Tak lagi perduli pada dering handphone yang sedari tadi bersenandung riang. Juga pada keluh kesah teman seperjalanan ku. “kenapa tidak diangkat?” tanya kawan ku itu di sela-selah rengekan lelahnya “biar saja” ucap ku hampir tak terdengar. Bukan peramal memang, namun aku sudah dapat memprediksikan siapa yang menelepon....

Cerpen

Isyarat  “sejak mentari terbenam sore itu, pagi tak pernah datang lagi” waktu itu, senja merangkak perlahan, katanya mentari kan pulang ke peraduan. Sedang aku, masih dalam perjalanan menembus hujan, alangkah basah aroma tanah yang ku hirup kala itu. Waktu berputar sedikit ke belakang menembus batas ingatan ku. Tak sejalan dengan pacu roda kendaraan yang menggilas jalanan terjal dan bebatuan, ia terus saja melaju kedepan. Sama halnya seperti aku saat berada di hadap senja-senja pada masa sebelumnya. “Pulanglah, engkau telah lama pergi” ucap bias senja tanpa suara. Namun begitulah aku enggan menoleh. “sedikit lagi” pikirku. Sedikit lagi sampai aku pada puncak gunung yang susah payah aku daki, mengorbankan waktu dan tenaga. Aku terlalu letih untuk berhenti barang sesaat kali ini. “Pulanglah, mata air telah menunggumu hingga keruh” bisik senja pada gawai yang setia menyampaikan rindunya padaku. Aku bahkan tak perduli. Hingga suara-suara matahar...

DESTINY

(3) _Mendaftar_ Satu minggu setelah pembicaraan kami di kantin, berakhir di meja stand pendaftaran LPM sukam. “Kok baru daftar dek?” salah seorang kaka penjaga stand nya iseng bertanya. “Iya ka, kemaren banyak yang di kerjain, jadwal kuliah padat.” Jawab Hilma. “Jurusan Apa?” “Aku keguruan, kalau dia perbankan syariah” Hilma menunjuk aku. “Mahasiswa baru ya?” Hilma nyengir mendengar pertanyaan seperti itu. “Aku maba ka, dia udah semester tua” hilma menyahut sambil tertawa “eh?” aku menatap Hilma penuh arti Kaka penjaga stand itu cuman manggut-manggut sambil tersenyum, sepertinya mengerti bahwa Hilma hanya sedang bergurau saat itu, aku lebih memilih diam dan fokus mengisi formulir pendaftaran. Aku dan Hilma datang di hari terakhir pendaftaran, wajar saja di tanyai begitu oleh panitia pendaftarannya. Jujur saat itu aku gak tau apa itu LPM dan gak berusaha cari tau sama sekali, intinya aku mau belajar nulis, thats the point. Proses demi ...

DESTINY

(2) _LPM SUKAM_ Selain suka dengan hal-hal yang berbau kesenian, aku juga suka membaca dan menulis. Disanggar aku masuk divisi sastra. Tapi, ya gitu deh, latarbelakang sanggar tentu lebih kepada bermain teater dan musik. Hari itu cuaca lagi terik-teriknya, dan di kelas aku benar-benar mengantuk. Tadi malam begadang karena latihan teater buat acara pentas ulang tahun sanggar. “nanti habis dzhur makan di kantin yuk” sebuah pesan singkat masuk di handphone ku, dari halimah yang padahal orangnya duduk bersebelahan. “ngapain sih? Kurang kerjaan” aku berbisik langsung padanya Halimah sama sekali tak merespon bahkan asik menatap layar handpone nya, sesekali sok serius memperhatikan layar monitor di depan kelas saat dosen memperhatikan ke arahnya. “gimana?” sebuah pesan dari halimah lagi. Aku menyerah, akhirnya ku balas pesan singkat itu. “iya”. Satu setengah jam berlalu, perkuliahan usai tepat pada pukul 11.30 WIB. Sesuai janji usai sholat zuhur di ...

DESTINY

(1) _FIRST LOVE_ Panggil aku Ayra seorang mahasiswi semester 5 di perguruan tinggi Universitas Islam Negeri Barito Utara Kalimantan tengah. Masuk perguruan tinggi jalur prestasi. Aku adalah orang yang optimis dalam segala hal dan juga realistis. Aku juga orang yang suka hal-hal baru. Semester pertama aku memutuskan masuk menjadi anggota sanggar fakultas, kenapa gak masuk sanggar universitas yang cakupannya lebih luas? Well, karena fall in love at first sight. Dan yang bikin jatuh cinta itu marsnya, aku merasa terhura melihat kekeluargaan mereka di panggung saat pementasan. Hingga   akhirnya aku mendaftar bareng sama salah seorang teman yang satu lokal di bangku perkuliahan. Hasilnya aku bertahan sampai akhir dan jadi anggota penuh tapi temen ku putus di tengah jalan yang biasa kami sebut dengan istilah seleksi alam. Semua berjalan lancar, organisasi kampus dan perkuliahan ku balance sama seperti hasil akhir dalam ilmu akuntasi yang ku pelajari hampir setiap 2 kali s...

Flamboyan

Kembang merah di ujung kota Menunggu sapa angin utara Atau langkah kuda penarik kereta Pembawa berita dan simfoni cinta Flamboyan Kaulah yang dirindukan Sang pengembara Yang menapaki keringat tanpa huru hara Hingga puncak almamater para ksatria Jika bungamu jatuh berguguran Dalam semerbak wangi sinar pesona Kau ucapkan selamat datang Pada pengembara berpedati tua Yang tak henti berucap bahagia Karena perjalanan panjangnya tidak sia-sia Berakhir dibatas kota... Susilo Bambang Yudhoyono Semarang 24 Januari 2004

Cerpen_Lily

Lily Was a Little girl “semesta terlambat untuk kisahnya, semoga semesta tidak melewatkan kisah ku” (Lily) suatu malam di Bumi Tuhan Aku Lily seorang gadis yang beruntung. Seorang jelita pernah masuk ke dalam jiwaku, menjelma menjadi aku dan dengan terus terang ia katakan padaku bahwa mataku membuatnya iri. “Banyak wanita cantik di dunia ini Llily. Namun, engkaulah yang paling cantik di mataku. Semesta sudah terlambat untuk sebuah kisah, aku harap semesta tidak melewatkan kisah mu kali ini.” “ mata mu Lily, aku iri. Bagaimana tidak? Ada alam semesta di dalamnya, dengan gunung-gunung terhampar, udara bersih dan mata air kehidupan memancar juga di sana.” Engkau pastilah tak percaya, jelita itu datang dari bagian-bagian rumahku, sungguh aku tidak mengada-ngada perihal ini. Suatu siang di tengah mimpi- mimpi yang tengah aku perjuangkan dalam tidurku, suara berisik dari tengah ruangan membuat aku terjaga. Segala bagian dari sudut rumah mulai berkumpul membentuk kombin...

Malam di Sudut Kota

Di sudut kota, mimpi-mimpi ricuh sebab malam selalu menggerutu panjang pada jalan raya besar serta kedai kopi yang selalu mengepul anggun anak anak kota  lebih suka menghitamkan mata daripada menghitamkan kulit katanya ah lelap malam menggerutu hingga lelap tanpa sempat bermimpi lagi dalam pekatnya sekalipun malam tetap benderang di sudut kota Wahyu safitri Banjarmasin, Kamis (07/03)